Tugas & Diam (sssttt…)

Suatu hari saya dan teman-teman sekelas diberi tugas oleh salah seorang dosen sewaktu kami masih kuliah 2 tahun yg lalu. Menurut saya tugas ini simpel dan menarik, entah mungkin berat untuk sebagian orang. Dosen mata kuliah Pronunciation & Speaking meminta kami (saya dan teman-teman) untuk diam dalam sepanjang perjalanan pulang kuliah hari itu, dimulai dari usai mata kuliah terakhir. Diam dalam artian tidak bicara sepatah kata pun😐. Kemudian di pertemuan berikutnya kami diminta menceritakan perjalanan pulang tersebut, in English of course.silentOke, akhirnya waktu pulang pun tiba. Kami semua siap dengan tugas itu. Menggelikan memang dengan tugas yg satu ini, dan untuk orang yg cerewet mungkin sulit sekali ketika ‘harus’ diam seribu bahasa menahan lidah yang gatal ingin bicara twisted, padahal pulang bersama teman-teman seperjalanannya. Berarti tanpa sapaan, obrolan dan candaan. Pasti agak membosankan. Untuk yang berjarak dekat pastilah lebih cepat sampai rumah, sehingga diberikan waktu sampai dengan 1 jam dari waktu yg ditentukan untuk diam.

Saat rentang waktu tugas saya cukup menikmatinya, menikmati ‘diam’ bersama teman seperjalanan pulang yang searah tujuan. Konyol. Ya, memang agak konyol. Kadang dijalan hampir kelepasan untuk ngobrol, tapi Alhamdulillah tertahan. Ingin rasanya segera sampai rumah kemudian mulut ini bicara, lepas dari belenggu ‘diam’.

Diam, tugas yang sederhana. Hanya dengan menutup mulut rapat-rapat dan menguncinya agar tidak keluar kata-kata darinya. Tidak perlu repot-repot melakban mulut, karena akan sangat menyakitkan saat dilepas bahkan dianggap aneh kalau sampai perlu begitu.

Namun tahukah Anda? Ternyata dalam diam itu otak bekerja. Mulut diam, pikiran menerawang. Berpikir sekilas apa yang dilihat, terkadang hati pun ikut komentar ataupun merenung. Apapun yang saya lihat sepanjang perjalanan menjadi topik utama dalam otak sehingga mengalirlah pendapat-pendapat yg hanya bisa saya ungkapkan dalam hati. Dalam diam hati sangat jujur. Diam adalah emas, memang benar adanya.

Itulah yg ingin disampaikan oleh dosen kami melalui tugas ‘diam’. Banyak cerita yang menakjubkan dari teman-teman ketika pada pertemuan berikutnya maju untuk memaparkan perjalanan ‘diam’ mereka. ‘When I saw blablabla, I thought blablabla’, kebanyakan dipakai saat bercerita🙂. Kami senang tugas ini menjadi tugas yg mengesankan, unik dan takkan terlupakan.

Saya yakin, para pemenang dan finalis Blackinnovationawards memperoleh ide saat diam. Diam ketika melihat ada sesuatu yang bisa mereka kembangkan sambil berpikir untuk membuat sesuatu itu menjadi menarik dan bermanfaat. Kemudian menemukan ide-ide brilian dan cemerlang untuk sebuah innovasi.😀

Saat tak ada lagi kata-kata yang baik untuk diucapkan, maka diam adalah pilihan yang terbaik.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s