Kita Pejuang

OttoIskandarDinataHari ini Selasa, 10 Nopember 2009, bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan Nasional. Tadi pagi pun terlihat siswa-siswi dan para pegawai negeri sipil mengenakan atribut (seragam dan kelengkapannya) untuk menggelar upacara pengibaran bendera dalam memperingati hari nasional ini.

Bagaimana dengan saya? Ohya, rasanya rindu sekali mengikuti upacara bendera seperti itu. Sudah sekitar 3 tahun lebih sejak lulus sekolah menengah atas, saya tidak pernah mengikutinya lagi. Maklumlah, kuliah mana ada upacara seperti itu, apalagi di tempat kerja😛. Setiap kali peringatan hari-hari besar nasional sekarang saya lalui tanpa upacara semacam itu, melainkan hanya menyadarinya. Ya, menyadarinya dan memikirkannya sejenak. Dan yang ada dalam pikiran saya sekarang adalah …? (ayo tebak). Bukan, bukan Djarum Black. Tapi pahlawan woy. Namanya juga hari pahlawan, jadi wajarlah kalo yg saya pikirkan jelas-jelas tentang pahlawan.

Hmm… sadar atau tidak, sebenarnya saya dan Anda adalah pejuang. Gak bakal jadi pahlawan kalo gak berjuang. Oke ya intinya kita (saya dan Anda) saat ini adalah pejuang untuk menjadi pahlawan. Masa perjuangan fisik telah ditempuh oleh para pendahulu kita di jaman penjajahan Jepang dan Belanda. Sekarang hey! Jangan santai-santai. Kita masih dijajah secara kasat mata. Bukan perang otot, akan tetapi perang otak yang sangat sulit. Berbelit tapi pasti kita bisa!

Kakek-nenek ataupun buyut kita bisa jadi adalah pejuang di masa penjajahan 64 tahun silam. Di masa itu mereka adalah pejuang dan kini kita sebut mereka pahlawan. Kini kita adalah pejuang dan insya Allah menjadi pahlawan di masa mendatang. Pahlawan bagi diri sendiri, pahlawan bagi keluarga, pahlawan bagi teman kita, pahlawan bagi lingkungan sekitar, pahlawan bagi institusi kita,  pahlawan bagi masyarakat atau bahkan pahlawan bagi bangsa. Akan tetapi bukan untuk disebut ataupun disanjung sebagai pahlawan, melainkan sebagai orang yang sudah berjuang tak peduli seberapa berhasilnya perjuangan itu. Saya pernah membaca sebuah artikel yang kutipannya (yang saya tangkap) kurang lebih berbunyi:

Orang boleh pintar setinggi langit, tapi akan sangat percuma selama ia tidak berkarya (bertindak)“.

Mari berjuang teman! Saya yakin Indonesia akan lebih berjaya di masa ketika keseluruhannya bangkit bersatu untuk bertindak, tidak untuk (saling) mencaci.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s